Perlunya Sangsi untuk Penyetrum dan Pemotas Ikan di Sungai

Perlunya Sangsi untuk Penyetrum dan Pemotas Ikan di Sungai

Perlunya Sangsi untuk Penyetrum dan Pemotas Ikan di SungaiApa yang diterapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, sudah sangat tepat. Para pencuri ikan di laut Indonesia layak di beri sangsi. Namun, bagaimana dengan para penyetrum dan pemotas ikan di sungai-sungai? Sementara alur sungai kebanyakan berada di pedesaan. Tentunya jauh dari pengawasan kementrian secara langsung. Hal inilah yang kerap bikin warga setempat sangat resah.

Ikan yang ekosistemnya tercemar bukanlah impian para pejuang yang mati-matian membela kemerdekaan. Mereka, sudah berkorban jiwa dan raga agar tidak menyerahkan kekayaan alam dan kedaulatan Indonesia untuk negara lain. Sudah selama ratusan tahun, mereka menawarkan diri untuk hidup atau mati di medan pertempuran. Sebagai generasi lanjutan, sudah semestinya apa yang mereka wariskan selalu dijaga.

Ironisnya, para generasi penerus abai dengan perjuangan mereka. Seakan-akan kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan isapan jempol belaka. Ekosistem di sungai dirusak sedemikian rupa. Ikan-ikan yang dahulu sering berkerlip menari di bawah arus air, kini sudah banyak yang hanya tinggal batu dan cadas. Semuanya karena ulah manusianya sendiri yang tidak bisa menjaga alam dengan baik.

Padahal, keharmonisan antara alam dan manusia sangat berkaitan erat. Oleh karena itu, ada hukum alam. Hukum alam berkata, “Saat alam dirusak dan dieksploitasi terus-menerus, maka ia berhak marah.” Saat alam sudah marah karena Kuasa Tuhan, apakah lantas buru-buru menyalahkan Tuhan atas musibah yang terjadi? Ada hukum kepastian sebab-akibat. Setiap sebab yang buruk, maka akan berakibat buruk pula.

Solusinya tentu saja bukan hanya dengan menyebar bibit ikan kembali dalam jumlah melimpah. Hampir tidak ada gunanya saat sumber daya alam melimpah berbanding terbalik dengan kekayaan sumber daya manusianya. Mereka yang sudah merusak ekosistem sungai setidaknya diberi sangsi yang edukatif. Setidaknya agar perbuatan mereka tidak menular ke orang lain.

Indonesia bukan terlahir dari nenek moyang para pencuri. Indonesia itu ramah-ramah. Punya tenaga yang kuat untuk mandiri dan bisa berjuang semaksimal mungkin. Seharusnya Peraturan Desa (Perdes) yang ada diterapkan dengan baik. Bukan hanya wacana, maupun pajangan seperti ornamen di dinding-dinding kantor. Pembuatan peraturan itu mudah, tetapi realisasinya yang sering hanya angin lewat saja.

Setiap daerah di Indonesia patut mencontoh apa yang dilakukan oleh Polsus Perikanan dari Aceh. Mereka betul-betul tegas saat mengetahui ada laporan orang yang merusak ekosistem sungai. Bisa dengan menyetrum ikan maupun memotas ikan. Kedua motif kejahatan ini yang paling sering terjadi. Padahal, hasil ikan yang dipotas itu tidak menyehatkan bagi tubuh.

Umumnya, hasil tangkapan ikan ilegal itu dijual ke pasar. Orang-orang pasar tentu saja tidak tahu asal-muasal tangkapan ikan itu. Mereka hanya tahu bagaimana cara bertransaksi. Sementara para pengkonsumsi sebagian besar masyarakat. Tentu saja ini akan merugikan banyak orang. Apabila perbuatan ini tidak ditindak secara tegas, sungai-sungai di pedesaan akan kehilangan harta berharganya.